Potensi dan Tips Budidaya Kayu Gaharu

Potensi dan Tips Budidaya Kayu Gaharu

Diposting pada

Potensi dan Tips Budidaya Kayu Gaharu

Kayu gaharu merupakan kayu resin yang memiliki aroma khas yang wangi. Selain telah lama menjadi produk aromatik, kayu gaharu juga terkenal akan produk kerajinan tangan kayunya. Bahkan kerajinan tangan kayu dari kayu gaharu yang berasal dari Jember bisa menembus pasar ekspor dengan pangsa pasar utama luar negeri adalah Eropa dan Tiongkok. Produk kerajinan tangan kayu dari Jember tersebut adalah kerajinan manik – manik kayu dengan bahan utama yakni kayu gaharu yang di potong – potong hingga berukuran kecil. Potongan – potongan kayu gaharu tadi lantas dilubangi di bagian tengahnya, baru setelah itu mengalami proses penjemuran lantas dicat dan dirakit pada tahap akhir finishing. Tak tanggung – tanggung bahkan per minggunya pemilik kerajinan tangan kayu manik – manik dari kayu gaharu bisa memiliki omset hingga 40 juta hingga 50 juta rupiah.

Melihat begitu berpotensinya nilai ekonomis dari kayu gaharu ini, maka banyak orang yang mulai melirik budidaya kayu gaharu. Harga dari kayu gaharu sendiri biasanya dihitung  per kilogram dengan harga per kilogramnya bisa mencapai 1 juta hingga 4 juta rupiah bukan dihitung dari harga kayu balok per meter. Harga yang sangat fantastis tentunya.

Kayu gaharu banyak di cari oleh orang – orang, utamanya masyarakat timur tengah karena aroma wanginya yang khas yang berasal dari gubal. Gubal ini merupakan hasil inokulasi infeksi mikroba yang terjadi melalui proses alami dan bisa terbentuk ketika tanaman berumur 25 hingga 30 tahun. Gubal merupakan getah resin dan sumber aroma wanginya dari gubal tersebut.

Jika kita membayangkan, mungkin terlalu lama jika setiap pohon baru bisa menghasilkan gubal atau getah resin setelah umur 25 hingga 30 tahun. Namun jangan khawatir, karena kemajuan teknologi dibidang biotek maka sekarang ini kita tidak perlu menunggu selama itu. Dengan penerapan bioteknologi, gubal atau getah resin sudah bisa diperoleh setelah 5 tahun menanam dengan diameter pohon gaharu dari 70 cm hingga 100 cm. Untuk budidaya kayu gaharu dengan menerapkan teknik bioteknologi tersebut, dengan menyuntikkan suatu senyawa mikroba ke dalam pohon gaharu untuk membentuk resin dengan cepat. Jadi, senyawa mikroba tersebut bisa dibilang menjadi semacam katalis. Senyawa mikroba ini dianggap sangat menguntungkan dalam hal budidaya kayu gaharu karena selain perawatannya sangat mudah dan tidak perlu treatmen khusus, senyawa mikrobanya juga membuatnya sangat menguntungkan.

Perawatan dan Tips Budidaya Pohon Gaharu

Untuk perawatan tanaman dalam budidaya kayu gaharu sendiri hanya dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan menaburi pupuk NPK dengan dosis antara 5 sampai 10 gram selama 1 tahun pertama penanaman. Untuk selanjutnya di tahun – tahun berikutnya dosisnya menyesuaikan saja dengan pertambahan ukuran batangnya. Namun perlu diperhatikan, bahwa dalam melakukan budidaya kayu gaharu pada penanaman awalnya di awal pertumbuhan antara bulan pertama hingga bulan ke empat mengalami masa kritis. Sehingga pohon gaharu belum bisa tumbuh dengan cara tegak dan optimal sehingga pembudidaya perlu mensiasatinya dengan cara membuat naungan dari jerami sebagai atap untuk menghindari terik matahari yang berlebih karena paparan sinar matahari yang berlebih akan menghambat pertumbuhan budidaya pohon gaharu di masa – masa kritis tersebut. Untuk perawatan biasa, kalian hanya perlu membersihkan area tumbuh sekitar dari gulma rumput liar dan  menyemprotkan pestisida racun rumput disekitarnya agar pertumbuhan bibit gaharu tidak terhambat. Pertumbuhan gulma sangat cepat ketika musim penghujan, untuk itu saat musim penghujan pembudidaya dapat memberikan perhatian lebih.

Selanjutnya pada tahun ke 3 hingga ke 5 penanaman pohon gaharu, lakukanlah pemangkasan dengan cara memotong bagian batang bawah yang menyulitkan inokulasi mikroba. Sehingga batang yang disisakan hanya sekitar 4 sampai 10 batang saja agar proses produksi gubal atau cairan resinnya oleh mikroba.

Populasi Pohon Per Hektar dan Lahan Pertumbuhan yang Ideal

Untuk memilih bibit untuk budidaya kayu gaharu, kita mengambil bibit pohon gaharu dari bedengan yang telah berumur antara 7 hingga 8 bulan. Pilih bibit yang memiliki tingkat pertumbuhan yang sama. Waktu penanaman paling baik adalah di awal musim penghujan di pagi hari dengan teknik penanaman monokultur atau pola tanam tunggal. Untuk penanaman pohon gaharu sendiri tingkat keseringan penanamannya ada beberapa opsi pilihan yakni  adalah sebanyak 1100 pohon per hektar lahan, 830 pohon per hektar dan 400 pohon per hektar.

Untuk syarat tumbuh budidaya pohon gaharu sendiri tidak terlalu susah, yakni syaratnya harus tumbuh optimal di daerah tropis. Untuk daerah lahan penanamannya sendiri paling optimal di lahan dataran rendah dengan dengan ketinggian sekitar 500 – 750 meter di atas permukaan laut. Untuk tanahnya sendiri yang paling bagus adalah tanah lempung berpasir yang juga diimbangi dengan sistem drainase yang baik. Untuk cuaca sekitar, karena tumbuh optimal di daerah tropis sehingga akan lebih optimal lagi jika daerah tropis yang ditanami pohon gaharu memiliki curah hujan antara 2.000 hingga 4.000 mm/tahun dengan suhu lingkungan rata – rata 22 sampai 28 derajat selsius dengan kelembaban udara antara 70 sampai 80 %. Jangan menanam di lahan yang terlalu lembab dan tergenang air karena pertumbuhan budidaya pohon gaharu tidak akan bagus. Untuk budidaya pohon gaharu sendiri paling baik menggunakan sistem tanam tumpang sari. Sistem tumpang sari ini paling baik karena akan menghindarkan budidaya pohon gaharu selanjutnya terhadap penyebaran penyakit. Nah sekian sedikit ulasan mengenai potensi dan cara budidaya kayu gaharu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *